Skip to Content

KELADI 


Tumbuh dengan caranya sendiri, diiringi karakternya yang tenang, adaptif, dan kuat dalam berbagai keadaan, ia mampu bertahan hidup meski berada di cuaca yang tak menentu. Keindahannya yang terus terpancar meski berada dilingkungan yang selalu berubah, tidak menghalangi kemampuannya untuk mampu beradaptasi. Dari situlah, kami menemukan, bahwa kehidupan tidak selalu menjadi yang paling menonjol. Tetapi tentang bagaimana kemampuan setiap individu untuk terus tumbuh, bertahan hidup, dan menemukan keindahan dalam diri sendiri, di tengah kehidupan yang tak terhitung.

Kadang, ide sebuah karya datang dari hal-hal kecil yang bahkan tidak pernah direncanakan. Dulu, saya punya kebiasaan sederhana. Pulang membawa rumput liar, bunga-bunga kecil di pinggir jalan, atau tanaman yang bentuknya terasa menarik di mata. Sebagian dikeringkan lalu ditempel sebagai dekorasi, sebagian lagi saya tanam begitu saja di halaman rumah. Di antara banyak tanaman itu, keladi jadi salah satu yang paling sering saya bawa pulang. Entah karena bentuk daunnya yang unik atau apapun itu. Tapi, satu hal yang menarik setelah saya amati, cara tumbuhnya yang selalu terlihat “hidup”, bahkan saat cuaca sedang tidak baik-baik saja. 

Lama-kelamaan, keladi bukan lagi sekedar tanaman koleksi. Ia mulai muncul diam-diam di dalam sketsa, lalu hadir dalam lukisan, hingga akhirnya menjadi salah satu karakter utama dalam karya batik tulis yang saya buat. Karena berawal dari dunia lukis kanvas, baru saya sadari, cara membatik pun terasa sedikit berbeda. Motif-motifnya tidak hanya disusun, tapi seperti “dilukis” perlahan di atas kain. Penuh rasa, penuh spontanitas, dan kadang tanpa sadar membawa bagian kecil dari hidup saya sendiri.

Ada satu detail yang hampir selalu hadir di setiap karya. Titik-titik kecil yang bertebaran. Sekilas terlihat sederhana, tapi itu adalah simbol dari ribuan, bahkan jutaan kehidupan di dunia ini. Banyak manusia, banyak cerita, banyak perjalanan. Dan di tengah semua keramaian itu, selalu ada satu motif utama yang dibuat lebih menonjol. Dalam koleksi ini, keladi menjadi tokoh utamanya. Seolah sedang bercerita tentang “aku” yang berdiri di antara begitu banyak kehidupan lain. Tentang identitas, tentang keberanian menjadi diri sendiri, dan tentang bagaimana setiap orang punya bentuk indahnya masing-masing. 

Mungkin itu juga yang membuat keladi terasa begitu dekat dengan karya-karya kami. Ia bukan tanaman yang manja. Ia mampu tumbuh di banyak keadaan, tetap hidup meski cuaca berubah-ubah, tetap indah meski lingkungannya tidak selalu sempurna. Menariknya, meski jenisnya ribuan, setiap keladi tetap punya corak dan kecantikannya sendiri-sendiri. Dari situlah kami percaya, manusia pun sama. Setiap orang punya cara bertahan, cara tumbuh, dan cara bersinarnya masing-masing. 

Jadi, ketika seseorang mengenakan karya ini, rasanya seperti membawa sebuah pengingat kecil, bahwa di tengah luas dan ramainya dunia, kita tetap bisa tumbuh menjadi versi terbaik diri kita sendiri, kuat, hidup, dan tetap indah dengan karakter yang kita miliki.