SEMARANG TENGAH, AYOSEMARANG.COM -- Selepas penyerahan piala, Dyah menghampiri keluarganya yang berada di tempat duduk tamu undangan. Dia lalu memeluk kedua anak dan suaminya seraya menitihkan air mata.
Dyah Kuncoro berhasil menjadi sang juara utama dalam ajang Industri Kreatif Menengah (IKM) Award 2021.
Dalam acara yang diselenggarakan di Gedung Moch Ihsan Ruang Loka Krida Balai Kota Semarang pada Jumat 28 Mei 2021 itu, Dyah telah mengalahkan 10 nominasi lainnya.
Dyah mengaku senang dengan hasil yang dia dapat. Bahkan dia mengaku tidak menyangka atas trofi juara ini.
“Saya nggak nyangka. Lawan-lawan saya soalnya murni para desainer,” terangnya.
Diah menjelaskan jika latar belakangnya adalah pelukis. Dia mengawali proses berkesenian dari corat-coret di atas kanvas.
Namun selain melukis di atas kanvas, Diah juga suka melukis di kain. Dari situlah dia punya ide mengembangkan kemampuannya untuk membuat produk fashion.
“Lalu saya kepikiran, “oh, iya, kenapa saya nggak membuat desain batik saja?”,” tambahnya.
Dalam menciptakan desain, Dyah memang mengedepankan kreativitas. Dyah kemudian menciptakan batik kontemporer.
Batik ciptaannya memang tidak memakai pakem tradisional atau murni ciptaannya sendiri. Barangkali itulah, menurut Dyah, yang menjadikan dewan juri memilih dirinya sebagai pemenang.
“Ini kan yang dinilai inovasi. Saya motif bikin sendiri, kain juga sendiri. Desai juga milik saya sendiri,” tambahnya.
Dalam penilaian juri, ada aspek sosial yang diperhatikan. Sebab dalam persyaratan IKM Fashion Award ini juga menyebut bagaimana produk pelaku industri itu bisa berguna di masa pandemi.
Untuk batik Dyah Kuncoro, Dyah memaparkan jika batiknya memiliki peran secara sosial. Yakni bisa menghidupi sekelompok masyarakat dan meringankan kesulitan ekonomi di masa pandemi.
“Untuk mempercepat produk saya, biasanya saya kerahkan ibu-ibu di Meteseh untuk membantu. Dari situ, bisa jadi tambahan penghasilan, apalagi di masa sulit seperti pandemi ini,” ucapnya.
Dyah mengakui jika produknya memang diperuntukan bagi kelas menengah- ke atas. Hal itu dilihat dari harganya yang cukup merogoh kocek sangat dalam. Bahkan, ada batik Dyah yang mencapai harga Rp25 sampai Rp30 juta.
“Tapi yang kelas menengah ada. Harganya sekitar Rp 500 ribu,” paparnya.
Ke depan Dyah akan memproduksi batiknya secara masif. Bahkan dia punya cita-cita besar untuk menjadikan produknya sebagai batik khas Semarang dan menjadikan galerinya sebagai rujukan wisata.
“Tapi itu nanti. Untuk saat ini saya ingin kembangkan dulu,” pungkasnya.